Rabu, 16 November 2011

Penghasilan dan Kekayaan Nabi Muhammad saw


Dari mana Nabi mendapatkan harta? peninggalan orang tuanya?, pemberian pamannya atau warisan kakeknya?, Agaknya pendapat tersebut sulit diterima. Argumentasi yang lebih masuk akal adalah, Nabi Muhammad memperolehnya dari usaha sendiri terutama ketiak ia membangun kerjasama bisnis dengan Khadijah. Tidak ada data yang dapat memastikan berapa jumlah kekayaan Nabi Muhammad SAW setelah menikah dengan Khadijah. Informasi yang kita terima adalah, Nabi Muhammad selalu menafkahkan hartanya untuk jalan Allah (fi sabilillah). Nabi Muhammad sering membagi-bagikan harta, onta, tanah kepada sahabat-sahabatnya yang miskin. Kisah Tsa’labah yang miskin lalu oleh Nabi diberi beberapa ekor kambing untuk dikembangbiakkan adalah contoh yang paling dekat untuk menjelaskan kekayaan Nabi Muhammad SAW.

Jika Nabi Muhammad SAW adalah orang kaya, sebenarnya tidak ada yang mengherankan di sini. Sebagaimana yang dicatatkan oleh Ali Syu’aibi -lalu dikutip Syafi’i Antonio di dalam bukunya, Super Leader Super Manager- tampak bahwa ada beberapa sumber pendapatan Nabi Muhammad SAW; Pertama, dari harta yang dijadikan Allah SWT sebagai fai’ (harta yang ditinggalkan musuh) untuk Rasul dan kaum muslimin tanpa harus melewati pertempuran. Banyak contoh sejarah, misalnya Yahudi yang meninggalkan hartanya dengan konvensasi keselamatan dari Islam ketika mereka meninggalkan Madinah. Ketiga, al-shafi harta yang dipilih Rasul dari harta ghanimah (harta hasil rampasan perang) sebelum dibagikan kepada tentara Islam. Ketiga, al-sahm yaitu beberapa bagian di luar seperlima yang merupakan hak Rasul sebagaimana yang diamanatkan Al-Qur’an.

Ketiga bentuk penerimaan Rasul di atas belum termasuk lagi harta-harta yang diberikan orang lain kepadanya. Contoh yang populer adalah tanah fadak (daerah otonomi pemerintahan Yahudi di Hijaz). Tanah fadak ini menjadi milik Nabi Muhammad setelah diserahkan orang Yahudi kepadanya tanpa melalui peperangan. Mereka meninggalkan fadak dan meminta jaminan kepada Nabi agar dapat keluar dari wilayah Islam dengan aman. Nabi juga pernah menerima 90.000 dirham dari seseorang, namun ia membagikan seluruhnya kepada umat Islam sampai uangnya habis. Tidak kalah menariknya, Nabi juga banyak menerima harta sebagai hadiah dari hubungan baiknya dengan pihak luar. Contohnya adalah, Nabi pernah menerima harta dari Muqauqis, Al-Haris bin Abi Syamr al-Ghassani dan sebagainya. Tidak tanggung-tanggung, terkadang mereka memberikan budak perempuan dan laki-laki, emas, pakaian, keledai, kuda dan sebagainya. Karya Syu’aibi yang berjudul, Muhammad Seorang Milyuner ? dengan cukup baik menjelaskan bagaimana Nabi memperoleh kekayaannya.

http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=14657

***


 “Kekayaan tidak membawa madharat bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT,” itulah pesan Sang Nabi. Kenapa? Karena kefakiran dapat mendekatkan kita dengan kekufuran. Sebaliknya, kekayaan dapat memudahkan kita dalam beribadah.

Misalnya saja dalam berjihad, bersedekah, berzakat, berhaji, berumrah, menafkahi keluarga, mencukupkan kebutuhan ahli waris, mencari guru (mursyid), menuntut ilmu, menegakkan ekonomi syariah, membangun sarana umat, dan meningkatkan bargaining position umat.

Salah satu bukti kekayaan Nabi Muhammad, ia memiliki banyak unta perah dan 20 untanya pernah dirampas oleh Uyainah bin Hishn. Bukan itu saja, Nabi Muhammad sendiri juga ditopang kekayaan dalam berdakwah. Di antaranya, ia punya unta dari jenis terbaik (al-Qashwa) dan keledai pilihan sehingga memudahkan perjalanan dan perjuangannya.

http://www.rumahzakat.org/?c=content&ins=14&pid=5132

***


Semasa kenabian, harta kekayaan Muhammad, menurut Ali Syu’aibi (2004) terdiri dari tiga bagian:

Pertama: Harta yang dijadikan oleh Allah sebagai fai’. Harta ini diperuntukan bagi rasul dan kaum muslimin tanpa melalui pertempuran. Contohnya: Harta yang diperoleh dari suku Yahudi bani Nazir yang mengkhianati pakta perdamaian Madinah. Mereka memohon kepada nabi jaminan keselamatan untuk meninggalkan Madinah dengan memberikan harta benda dan hasil bumi mereka.

Kedua: As-Safi (Harta yang dipilih nabi dari ghanimah sebelum dibagikan).

Ketiga: As-Sahm (beberapa bagian di luar satu perlima yang merupakan hak rasul).

Meskipun tidak catatan akurat tentang jumlah persis kekayaan Rasulullah saw sepanjang hayatnya, ada beberapa catatan yang menunjukkan Rasulullah adalah orang berpunya dan memiliki harta banyak, namun beliau selalu mendahulukan kepentingan umat melebihi kepentingan dirinya sendiri dalam bentuk infak, sedekah dan membantu fakir miskin.

Diceritakan bahwa Muhammad saw pernah membagikan lebih dari 1500 ekor unta kepada beberapa orang Quraisy sesudah perang Hunain. Kemudian, beliaupun pernah memiliki tanah Fadak. Fadak adalah sebuah daerah pemerintahan otonomi Yahudi di Hijaz. Penduduknya mayoritas Yahudi. Tanah Fadak diserahkan oleh kaum Yahudi kepada rasul tanpa melalui pertempuran (Ibnu Hisyam.II: 368)

Masih terkait kekayaan yang dimiliki nabi, Syu’aibi mencatat, beliau membagikan al-kutaibah (pemberian rutin) kepada kerabat dan istri-istri beliau. Kepada Fatimah 200 wasaq, Ali bin Abi Thalib 100 wasaq, Usamah bin Zaid 250 wasaq, Aisyah 200 wasaq, Ja’far bin Abi Thalib 50 wasaq, Rabiah bin Harits bin Abdil Mutthalib 100 wasaq, Abu Bakar 100 wasaq, Aqil bin Abi Thalib 140 wasaq, Bani Ja’far 140 wasaq, untuk sekelompok orang dan istri-istrinya 700 wasaq. Lainnya untuk Bani Mutthalib yang sebagian masih di Mekkah (Syu’aibi, 2004). Selain itu, seusai perang Khaibar, nabi memperoleh sekitar 100 perisai, 400 pedang, 1000 busur dan 500 tombak.

Dikabarkan bahwa Muhammad menerima 90.000 dirham. Tetapi uang itu dibagikan kepada orang banyak sampai habis. Sebaliknya, ketika kembali dari perang Hunain, nabi disodori uang hasil rampasan perang. Beliau berkata: “Letakkanlah uang itu di masjid.” Kemudian nabi shalat di masjid itu tanpa menolah kepada uang tadi. Seusai shalat beliau duduk di dekat uang tersebut dan memberikannya kepada setiap orang yang meminta. Beliau berdiri setelah uang itu habis.

Sebagian harta yang dimiliki Muhammad saw merupakan hadiah dari sahabat atau para penguasa yang menjalin hubungan diplomatik dengan beliau. Misalnya, hadiah dari Muqauqis, penguasa Mesir yang menghadiahinya dua orang perempua hamba sahaya, seorang hamba sahaya laki-laki, 20 potong baju pembesar Mesir, dan imamah (kain penutup kepala untuk laki-laki). Masih menurut catatan Syu’aibi, tatkala Rasul menerima hadiah seekor keledai dan kuda, lalu dari hadiah tersebut beliau memberikan kepada Hatib bin Abi Baltah 100 dinar dan 5 potong baju.

Al-Harits bin Abi Syamr al-Ghassani juga pernah menghadiahkan kepada Rasulullah saw 100 gram emas dan sejumlah pakaian. Sebaliknya, beliau pernah juga memberikan hadiah kepada beberapa orang penguasa, seperti hadiah untuk Gubernur Kisra di Yaman berupa emas dan perak. Rasulullah saw memang kerap menerima dan memberikan hadiah. Beliau tidak menerima sedekah, melainkan banyak bersedekah.

***


As the non-Muslim pointed out, the Prophet (sal Allahu `alayhi wa sallam) did, indeed, receive 1/5 of the war spoils. The injunction for this comes in Surah al-Anfaal (8:1 and 8:41), which can be translated as follows:

8:1 "They ask thee concerning (things taken as) spoils of war. Say: "(such) spoils are at the disposal of Allah and the Messenger. So fear Allah, and keep straight the relations between yourselves: Obey Allah and His Messenger, if ye do believe."

8:41 "And know that out of all the booty that ye may acquire (in war), a fifth share is assigned to Allah,- and to the Messenger, and to near relatives, orphans, the needy, and the wayfarer,- if ye do believe in Allah and in the revelation We sent down to Our servant on the Day of Testing,- the Day of the meeting of the two forces. For Allah hath power over all things."

Now, in regards to the 1/5 that the Prophet SAS received, he did NOT receive this 1/5 for himself only. Rather, within that 1/5, the Prophet was responsible to distribute it to the said categories, namely dhil-qurbaa (close relatives), al-yataama (orphans), al-masaakeen (needy), and ibn as-sabeel (wayfayer). He then kept his meager portion, which did not amount to much, as we are well aware of the simple amenities that the Prophet had.

Also, as mentioned by Mufti Muhammad Shafi'i in his commentary Maa'rif ul-Qur'an, regarding 8:41:

"This tells us that the verse does not aim to put a restriction of the Holy Prophet  that he necessarily gives to all these categories and gives equally too. Instead, the aim is that he may give out of the one fifth of spoils to any category from the five categories specified as he deems fit and appropriate. (Tafsir Mazhari)"

Abu Bakr(rz) said to Fatima(rz), "Allah's Apostle(s.a.s) said, Our property will not be inherited, whatever we (i.e. prophets) leave is sadaqa (to be used for charity." (bukhari vol.4)

no member of prophet(s.a.s) family got even a single rupee as inheritance

http://www.sunniforum.com/forum/showthread.php?31762-What-was-the-Prophet-Muhammad-(pbuh)-s-personal-wealth

***

SUMMARY

1)  Before he died Muhammad proclaimed that he would not be leaving inheritance to his family members.
2)  On the day following Muhammad’s death his daughter Fatima, her husband Ali, and Ibn Abbas visited Abu Bakr and demanded that he give them their fair share of Muhammad’s wealth.  Abu Bakr refused on the grounds that Muhammad followed in the footsteps of other prophets and would not allow his family members to receive any inheritance.  However, Ali correctly pointed out that Muhammad was mistaken because the Quran records example of prophets leaving an inheritance to their sons (David to Solomon, Zechariah to John the Baptist).  The end result of this confrontation was that till her dying day, Fatima hated Abu Bakr and refused to speak to him.  Ali also continued in hating Abu Bakr, burying his wife in secret, to avoid Bakr’s presence.  Ali reconciled with Abu Bakr, not because it was the right thing to do, but because he fell out of people’s favor, and it was the only way to get their favor back.
3)  Muhammad’s wives, other than Aisha, also set out to demand their share, but they were stopped by Aisha’s repeating of Muhammad’s words regarding “no inheritance”.
4)  After Abu Bakr died Ali and Abbas again pressed their claim upon Umar.  Ali and Ibn Abbas were at odds over who might get the money.  Abbas calls Ali a “sinful, treacherous, dishonest, liar!”  Umar reproves them both and states that at one time they both thought Abu Bakr to be a liar, sinful, treacherous, and dishonest!  Then Umar tells them to their face that they think him to be a liar, sinful, treacherous, and dishonest!  Then, because of their pressure, anger, and general discord, Umar is not able to bear up and continue to fulfill Muhammad’s commands, and he capitulates, giving them both some of Muhammad’s inheritance wealth (ostensibly that they would continue to maintain it the same way he did)!

Ali, when confronted by Abu Bakr with the reason for rejection, states that Muhammad was ignorant of his own Quran it, a book Muhammad supposedly had memorized, states that prophets left inheritance for their sons.  Ref. Sura 27:16, and 19:6.   Ali points that out to the group assembled there and leaves them silent, unable to respond, because they were shocked that he proved Muhammad to be in the wrong.  After all, this was Muhammad’s own Quran, and he got it wrong!  All Abu Bakr could do in response, knowing Ali was correct, was say, “well, that’s the way it’s going to be.”

http://answering-islam.org/Silas/rf1_mhd_wealth.htm

***

http://www.ummah.com/forum/showthread.php?88433-What-was-his-source-of-Income

***



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar